Uang adalah akar segala kejahatan








Orang bijaksana suka membohongi orang bijak sini dengan mengatakan bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan; tujuan mereka mungkin baik, yaitu untuk membesarkan hati orang miskin. Tetapi kenyataannya adalah, tidak ada uanglah yang menyebabkan segala macam  kejahatan.

Coba pikir! Dengan uang kita dapat menjadi anak yang berbakti; memberikan rumah, mobil untuk bokap dan nyokap, bisa bawa mereka bertamasya berkeliling dunia. Dengan uang kita akan menjadi suami yang lebih baik; bisa belikan istri berlian sebesar tinju. Dengan uang kita akan menjadi istri yang lebih baik, tersenyum setiap hari untuk abang tersayang. Dengan uang kita dapat menjadi orang tua yang lebih baik, saudara yang lebih baik dan orang yang lebih baik untuk komunitas.

Tanpa uang, mana bisa kita menjadi anak berbakti. Kalau anda menyayangi orang tuamu didalam hati, tetapi kere, apakah mereka bisa bangga denganmu. Kalau miskin, jangankan memberikan pasangan anda berlian sebesar tinju, salah salah pasanganmu kau berikan sebuah tinju karena  mukanya  masem  setiap  hari.

Kalau miskin sangat susah menjadi orang tua yang baik, bukan saja sering habis duit, tetapi juga habis kesabaran dengan sangat cepat. Kalau miskin mana bisa kita melakukan sesuatu kebaikan untuk komunitas, bagaimana dapat memikirkan orang lain kalau sendiri juga sedang pusing memikirkan bagaimana agar dapur tetap berasap.

Tanpa duit orang akan berpikir sangat pendek, mereka akan melakukan segalanya jika sudah terdesak. Saat istri dan anak dirumah lapar, apapun dapat kau lakukan. Saat miskin, anda akan mendapati bahwa tiba tiba anda menjadi sangat berani dan nekad, anda akan melakukan hal yang tidak pernah anda bayangkan hanya demi uang, bila perlu menggantikannya dengan nyawa anda, karena nyawa anda sekarang lebih murah dari uang itu. Jadi tidak ada uanglah yang merupakan akar dari segala kejahatan.

Uang itu tuan yang sangat kejam, tetapi adalah hamba yang baik. Jadi jika anda menjadi tuan dari uang, dia akan melayani anda dengan baik. Tetapi uang adalah tuan yang sangat kejam, jika anda menghamba padanya, maka hidup anda akan sangat menderita. 

Baik atau buruk uang adalah anda yang menentukannya. Tetapi satu hal yang pasti; uang mungkin tidak dapat memecahkan semua masalah, tetapi tidak ada uang adalah  sebuah  masalah  besar.

Anak Orang Kaya Sangat Beruntung








Orang selalu berpikir bahwa anak orang kaya pasti hidup senang, mau apa dapat apa. Kenyataannya belum tentu benar adanya. Kita selalu melihat rumput tetangga lebih hijau, selalu saja merasa milik orang lain lebih baik dari milik kita sendiri.

Jangankan anak orang kaya, hidup anak rajapun tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Sebagai seorang  pangeran , banyak sekali protokol yang harus dia jalani. Hidup tidak sebebas kita orang biasa. Mau kemana mana harus selalu diikuti, takut ada yang menangkap atau membunuhnya. Meskipun makan enak setiap hari tetapi hidupnya seperti burung dalam sangkar (enak menurut ukuran kita, tetapi tidak lagi untuk ukurannya, karena sudah makan enak setiap hari). Belum lagi intrik politik dari perebutan kekuasaan antar pangeran. Jadi hidup mereka jauh dari enak apalagi damai.

Begitu juga dengan anak orang kaya; untuk bertemu orang tuanya yang super sibukpun hanya jarang jarang. Betul mereka memiliki banyak uang untuk beli ini dan itu, tetapi apakah mereka menikmatinya. Kalau anak orang miskin makan MC Donald atau Kentucky Fried Chicken adalah suatu kenikmatan, sedangkan untuk anak orang kaya mungkin itu adalah suatu penyiksaan. Anak orang kaya perlu kenikmatan yang lebih untuk mencapai kebahagiaan. Anak orang miskin, sedikit kenikmatan  saja  sudah  puas  sekali.

Seperti pangeran, anak orang kaya juga disibukkan oleh permusuhan perebutan warisan antar saudara, jika orang tua tidak membaginya secara adil. Seperti anda ketahui keadilan itu sulit sekali diperoleh, yang satu merasa sudah adil, yang lain merasa tidak fair. By the way, anak orang kaya hanya bisa tetap kaya atau menjadi miskin. Sedangkan anak orang miskin bisa menjadi orang kaya.

Anak orang kaya lebih rendah daya juangnya, tetapi lebih tinggi pengharapannya. Anak orang miskin lebih tinggi daya juangnya tetapi lebih rendah pengharapannya. Anak orang miskin mudah mendapatkan kepuasan; bukankah itu adalah suatu kebahagiaan; dan bukankah mampu mencapai kepuasan adalah kekayaan yang tidak ternilai harganya.

Orang kaya itu sombong









Kalau dibilang orang kaya itu sombong, kayaknya enggak deh. Orang kaya baru atau OKBlah yang sombong hingga mampus.

Dalam pekerjaan, saya memiliki kesempatan bertemu dengan beberapa orang super kaya, memiliki kerajaan bisnis konglomerasi. Mereka itu sangat ramah, suka membantu dan baik hati. Mereka sepertinya sudah mencapai  self actualisasi.

Dalam pekerjaan, saya juga sering bertemu dengan orang kaya baru (OKB). Nah! yang satu inilah yang sombongnya bukan main. Mereka tidak segan segan menghina anda, mengatai anda goblok, tidak punya IQ dan tidak memiliki EQ. OKB ini merasa dia sudah mencapai sesuatu yang luar biasa; dari nol bisa kaya kayak sekarang; itu adalah pencapaian yang sangat luar biasa untuk ukurannya; jadi mereka tidak merasa salah menjadi sombong.

Jadi jika anda bertemu dengan orang kaya yang sombong, anda sudah tahu dan harap maklum, dia baru saja kaya. Heh... heh... heh.... Rasanya jika suatu hari nanti, saya jadi orang kaya, untuk satu atau dua tahun permulaan, saya juga akan jadi orang sombong dulu. Harap maklum, semasa miskin tidak pernah dihormati dan cuma dihina terus terusan. Saya malah berjanji untuk jadi orang yang sombongnya menjijikan, biar anda muntah melihatnya. Jangankan melihat, hanya mendengar nama saya saja orang orang pada enek. Idih amit amit! ;  )

Jadi, yang sombong bukan orang kaya, malahan orang miskin mungkin lebih sombong. Orang miskin sombong karena ada alasan tersendiri. Biasanya sih untuk menutupi kekurangannya. Orang kaya itu percaya diri jadi tidak sombong. Orang miskin itu minder jadi sering menutupi kekurangannya dengan keangkuhan, biar orang tidak lihat boroknya.

Maaf yach yang merasa miskin! Tetapi asalkan anda membaca buku ini, anda pasti bukanlah orang miskin. Anda pasti sangat kaya. Pertama kaya akan wawasan, karena anda senang membaca. Kedua anda sebenarnya memang benar benar kaya, coba ambil pen, kertas dan kalkulator; hitunglah semua harta yang anda miliki; ditambah  dengan  diri  anda  sendiri.

Coba anda pikirkan dalam dalam, berapa satu bola mata anda, jika ada orang yang ingin membelinya dari anda; kalikanlah 2, karena anda punya dua bola mata. Berapa harga satu ginjal anda, dan anda ada dua. Berapa harga sepasang tangan dan kaki anda. Jumlahkan semua anggota dan organ tubuh anda, nilainya akan sangat menakjubkan. Belum lagi isi otak anda yang tak ternilai harganya.


Tapi tunggu, jangan langsung menjadi sombong dulu; untuk menjadi sombong, anda perlu convertkan potensi anda menjadi uang yang dapat dihitung secara material. Setelah jadi OKB, jangan lama lama sombongnya. Cepat cepatlah anda mencapai selfactualisasi, maka anda benar benar menjadi orang super kaya dan yang pasti, orang kaya yang tidak sombong. 

Orang kaya itu mata duitan







Katanya orang kaya itu mata duitan. Kayaknya tidak deh. Sepertinya orang miskinlah yang mata duitan. Orang kaya sudah biasa lihat duit, jadi biasa biasa saja. Orang miskin jarang jarang lihat duit, kalau lihat duit matanya bisa berubah warna menjadi hijau. Orang kaya biasa pegang duit banyak, kalau lihat duit, tenang tenang saja. Orang miskin tidak pernah lihat duit banyak, kalau lihat duit banyak, liur bisa ngences dan mata bisa melotot  keluar.

Kebanyakan orang memiliki pandangan terkotak, mereka menganggap orang kaya cuma mau sama orang kaya saja. Sebenarnya itu adalah tidak benar. Orang kaya sama orang kaya karena tempat mereka hang out itu sama, jadi mereka bertemu dan kemudian bersatu. Orang miskin hang di bus, sedangkan orang kaya hang outnya di club atau asosiasi tertentu, sehingga sikaya dan simiskin jarang atau tidak pernah akan bertemu. Padahal kalau mereka bertemu dan berteman, sikaya tidak akan pernah mempermasalahkan apakah calon pasangannya punya duit atau tidak asalkan mereka cocok.

Sedangkan orang miskin, ukurannya lebih ke uang. Kalau anda mencoba mengejarnya, dia akan melihat apa yang anda kendarai, apa pekerjaan anda dan berapa besar rumah anda. Apakah mereka salah, tidak juga. Orang miskin sudah tahu susahnya hidup miskin, jadi mereka mau meyakinkan jika menikah jangan menjadi miskin lagi.

Miskin itu dosa loh. Anda mau berdosa? Tidak bisa menjadi orangtua yang baik dan tidak bisa menjamin kesejahteraan keluarga. Bisa bisa setelah menikah, keluarga berantakan karena kekurangan duit, karena duit adalah penyebab terbesar orang bercerai. Jadi orang miskin juga tidak boleh dibilang mata duitan, mereka hanya berpikir lebih jauh. Sedangkan orang kaya tidak  mempermasalahkan keuangan calon pasangannya karena mereka tidak ada masalah  keuangan.


Begitu juga mertua. Orang sering berkira, sulit menikahi anak orang kaya karena orang kaya itu mata duitan. Padahal kebalikannya, mertua kaya tidaklah mata duitan, mertua miskinlah yang lebih mata duitan. Alasannya sih klasik deh, karena cinta dan peduli sama anaknya, biar sianak tidak menderita. Kenyataannya sih biar bisa di pamerin  dan  siapa  tahu  hidup  bisa  jadi  lebih  baik.

Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi kutolong ibu, membersikan tempat tidurku









Ini adalah lagu favoritku semasa kecil, lagunya enak, artinya bagus dan mengajarkan anak anak kebaikan. Tetapi alangkah baiknya jika susunannya boleh sedikit diubah.

Kalau bangun tidur kuterus mandi, bisa menggigil dan sakit loh, bayangkan, baru bangun tidur, masih sedikit ngantuk terus pergi mandi. Kenapa tidak bangun tidur kurapikan tempat tidurku dulu, sambil menghilangkan kantuknya. Setelah itu gosok gigi dulu sebelum mandi; kalau gosok gigi setelah mandi, kan kotor lagi, basah lagi.


Dan ada yang semenjak kecil saya tidak mengerti dari syair lagu tersebut, yaitu; habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku. Seharusnya, habis mandi kutolong diriku, membersihkan tempat tidurku. Bukankah itu tempat tidurku, aku yang tidur, aku yang berantakin dan seharusnya akulah yang harus merapikannya sendiri. Bisakah itu dikatakan menolong ibuku? 

Darah lebih kental dari air








Kalau darah lebih kental dari air sih memang tidak bisa diperdebatkan, semua orang juga tahu dan semua juga pasti setuju. Tetapi arti pribahasa itulah yang perlu diperdebatkan.

Saya selalu dicecar orang tua dengan ajaran ini sejak kecil. Papa dan mama saya selalu bilang, darah lebih kental dari air, artinya hubungan persaudaraan atau hubungan darah itu sangat kental; sebagai saudara harus saling sayang menyayangi dan saling melindungi. Kalau darah lebih kental dari air saya tidak meragukan, tetapi kalau persaudaraan itu lebih baik saya harus pikir pikir dulu.

Saya tidak bilang semua saudara itu tidak baik; tapi coba ingat ingat siapa yang paling banyak menyakiti kita; biasanya sih orang orang dekat atau saudara saudara kita sendiri. Tentu saja ada saudara yang baik, tetapi banyak sekali saudara yang jahanam, bahkan haram jadah. Heh... heh... heh..., sorry yach terbawa emosi.  : )

Saudara itu terkadang memang sialan; coba bayangkan jika anda minta tolong diantarkan kesesuatu tempat; dia bilang malas ah, naik ojek saja sana. Tetapi kalau sama orang lain, dia malah yang menawari untuk mengantar. Jika kau kasih dia sesuatu, dia bilang biasalah kan kita saudara; tetapi kalau orang lain yang melakukan kebaikan terhadapnya, dia akan buru buru membalasnya, takut dibilang  tidak tahu  balas  budi.

Kalau anda terkena musibah, dan perlu bantuan; anda pasti akan diceramahi dulu sebelum dibantu, kalau dibantu loh, biasanya sih tidak, kecuali ada orang lain yang tahu; kan malu maluin sebagai saudara tidak mau membantu. Tetapi kalau orang lain terkena masalah dan minta bantuan, pastilah dibantu dengan senang hati, kalau  tidak  nanti  apa  kata  dunia.

Kalau anda kerja sama dengan saudara sendiri, dia akan tidak segan segan ataupun berpikir pikir dulu untuk mencurangi anda; kalau curang kan tidak digebuki, kan saudara sendiri. Kalau kerja sama dengan orang lain,  harus lebih gentleman, kan malu maluin kalau curang,  bisa bisa di laporkan kepolisi. Saudara itu kadang memang susah, kalau dia jahatpun, kau tidak bisa menceritakannya keorang lain, kan malu maluin, darah daging yang sama, genetik yang sama pula. Idih! 

Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat






Masih ingat guru olahraga dimasa sekolah dasar bilang bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Karena dia guru, yang katanya orang pintar, maka saya terima saja. Di SMP guru olah raga yang berbeda juga bilang bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, maka sayapun percaya. Di SMA guru olahraga yang berbeda lagi juga berkata yang sama; tentu saja saya jadi semakin percaya. Masa tiga orang pintar bilang hal yang sama saya tidak percaya.

Anda masih ingat kasus yang menimpa Mike Tyson, petinju legendaris yang merajai dunia tinju era 80an hingga awal 90an; dimana dia memperkosa seorang gadis muda. Saya jadi teringat semboyan yang sering dikumandangkan guru guru olah raga bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Mike Tyson adalah orang yang memiliki tubuh super sehat. Tetapi memperkosa seseorang pasti memerlukan pikiran yang tidak sehat. Kalau melihat sifat beringas dari Mike Tyson semasa muda, baik di atas ring atau diluar ring, sepertinya jiwanya tidaklah sesehat tubuhnya. Saya jadi mulai ragu dengan apa yang diajarkan guru olaragaku, tentunya guru guru olahraga anda juga.

Mulai saat itu saya mulai memperhatikan lebih seksama, dan saya menemukan bahwa dalam tubuh yang sehat tidak pasti terdapat jiwa yang sehat. Lihat para preman dijalanan; mereka secara fisik lebih sehat dari orang kebanyakan; mereka lebih jago berkelahi pula. Lihat saja perampok, mereka pasti lebih kuat dari orang biasa. Lihatlah pencuri, mereka pasti bisa lari lebih cepat dan memanjat lebih gesit dari orang biasa. Para pencuri, perampok, preman dan pemerkosa pasti memiliki badan yang sehat, tetapi apakah jiwa mereka sesehat tubuh mereka?

Kemudian saya bertemu dan melihat beberapa orang yang dilahirkan tidak begitu sempurna secara fisik. Ada seorang pria yang tidak memiliki kaki sejak dilahirkan, tapi dia dapat menjadi pengusaha. Ada seorang wanita dilahirkan tidak memiliki tangan sejak dilahirkan, dia dapat membawa mobil dan menggantikan popok untuk bayinya, tentu saja dengan kedua kakinya. Ada seorang pria luar biasa, tanpa kaki dan tangan sejak dilahirkan, dia bisa berenang, bisa mandi sendiri dan melakukan semua kegiatan selayaknya orang normal; malahan dia menjadi seorang motivator bagi orang orang yang berfisik sehat.

Banyak orang yang fisiknya sehat, tetapi jiwanya perlu disehatkan. Ada orang yang fisiknya tidak sempurna tetapi jiwanya sangat sehat. Saya memperhatikan adanya kesamaan antara orang orang cacat fisik yang saya ceritakan diatas, mereka sangat anthusias, mereka dapat mensyukuri keadaan mereka dan mereka sangat optimis; sehingga mereka memelihara dan melatih tubuh mereka menjadi sehat.


Karena jiwa mereka sehat, mereka memiliki pikiran yang sehat, kemudian menjaga tubuh mereka tetap sehat. Jadi sekarang saya meragukan semboyan yang selalu di kumandangkan guru guru olah raga bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Belum tentu! Tetapi dalam jiwa yang sehat seharusnya terdapat tubuh yang sehat. 

Ada tiga yang tidak dapat disembunyikan lama lama; Matahari, Bulan dan Kebenaran





Buddha berkata, “ada tiga yang tidak dapat disembunyikan lama lama; Matahari, Bulan dan Kebenaran.”

Saya bukannya kurang ajar berani mengatakan apa yang dikatakan Sang Buddha Yang Agung itu tidak benar. Saya cuma merasa bahwa Buddha adalah seorang yang sangat baik,  sangat polos dan selalu berpikir positif; sehingga beliau tidak berpikir yang licik licik seperti orang orang sekarang.

Memang benar kalau Matahari dan Bulan itu tidak dapat disembunyikan lama lama dari orang; tetapi orang itu dapat kita sembunyikan sehingga tidak dapat melihat Matahari dan Bulan untuk waktu yang sangat lama.  Bukankah itu sama saja dengan kita menyembunyikan Matahari dan Bulan darinya.

Benarkah kebenaran itu tidak dapat disembunyikan lama lama seperti Matahari dan Bulan? Saya rasa tidak! Kebenaran dapat disembunyikan dalam waktu yang sangat lama, bila perlu selama lamanya. Kebenaran bukan hanya dapat disembunyikan , malahan dapat diputar balikkan.

Dengan kekuasaan, uang dan teknologi hal itu sangat mungkin dilakukan. Coba pikir saja, dengan uang dan kekuasaan orang dapat menutupi kebenaran; mereka dapat menyuap ataupun mengancam agar kebenaran itu ditutupi dan disembunyikan.

Dengan uang mereka dapat mempekerjakan jurnalis untuk memutar balikkan fakta; ataupun panasbung (pasukan nasi bungkus) cyber untuk menyebarkan kebohongan dan menutupi kebenaran. Dengan teknologi hari ini, berita dapat disebar secara cepat; dan hebatnya lagi, orang orang pada percaya dengan apa saja yang mereka baca di internet, dengar diradio ataupun lihat di televisi.

Berita yang kita dapat hari ini, lebih dari setengahnya adalah berita yang tidak benar dan bahkan menyesatkan. Berita itu disebarkan oleh pemerintah, organisasi ataupun orang tertentu untuk mempengaruhi agar kita menerima pesan yang mereka ingin kita percaya. Berita itu bukan berisikan kebenaran, tetapi kepentingan kepentingan mereka. Dengan uang, kuasa dan media mereka dapat menutupi kebenaran.

Siapa yang menguasai media, dia menguasai kebenaran; dia dapat menentukan mana yang benar dan mana yang salah; dan tentunya sampai kapan dia  ingin kebenaran itu disembunyikan.

Jadi sorry to say, kebenaran itu tidak benar tidak dapat disembunyikan lama lama seperti halnya Matahari dan Bulan. Kebenaran itu dapat disembunyikan dan malah dapat diputar balikkan jika kita memiliki uang, kuasa, dan teknologi; dan tentunya apabila anda menguasai media.