Orang selalu berpikir bahwa anak orang
kaya pasti
hidup senang, mau apa dapat apa. Kenyataannya belum tentu benar adanya. Kita selalu
melihat rumput tetangga lebih hijau, selalu saja merasa milik orang lain lebih
baik dari milik kita sendiri.
Jangankan anak orang kaya, hidup anak rajapun tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Sebagai seorang pangeran , banyak sekali protokol yang
harus dia jalani. Hidup tidak sebebas kita
orang biasa. Mau kemana mana harus selalu diikuti, takut ada yang menangkap atau membunuhnya. Meskipun makan enak
setiap hari tetapi hidupnya seperti burung dalam sangkar (enak menurut ukuran
kita, tetapi tidak lagi untuk ukurannya, karena sudah makan enak setiap
hari). Belum lagi intrik politik dari perebutan kekuasaan antar pangeran. Jadi hidup
mereka jauh dari enak apalagi damai.
Begitu juga dengan anak orang kaya; untuk bertemu orang tuanya yang super sibukpun hanya jarang
jarang. Betul mereka memiliki banyak uang untuk beli ini dan itu, tetapi apakah mereka menikmatinya. Kalau anak
orang miskin makan MC Donald atau Kentucky
Fried Chicken adalah suatu kenikmatan, sedangkan untuk anak orang kaya
mungkin itu adalah suatu penyiksaan. Anak orang kaya perlu kenikmatan yang lebih untuk mencapai
kebahagiaan. Anak orang miskin,
sedikit kenikmatan saja sudah puas sekali.
Seperti pangeran, anak orang kaya juga disibukkan oleh permusuhan perebutan warisan antar saudara, jika
orang tua tidak membaginya secara adil. Seperti anda ketahui keadilan itu sulit sekali diperoleh, yang satu
merasa sudah adil, yang lain
merasa tidak fair. By the way, anak orang kaya hanya bisa tetap kaya atau
menjadi miskin. Sedangkan anak orang miskin bisa menjadi orang kaya.
Anak orang kaya lebih rendah daya
juangnya, tetapi lebih tinggi pengharapannya. Anak orang miskin lebih tinggi
daya juangnya tetapi lebih rendah pengharapannya. Anak orang miskin mudah mendapatkan kepuasan;
bukankah itu adalah suatu kebahagiaan; dan bukankah mampu mencapai kepuasan
adalah kekayaan yang tidak ternilai harganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar